fragmen - malam tanpa cahaya
Wednesday, August 29th, 2007Aku tak suka malam-malam seperti ini. Malam yang terlalu gelap dan sendiri. Cahaya beku, menelan semua keriangan. Aku tak suka malam yang memaksaku mengudal-udal segala kenangan yang telah terendap.
Memang kami bergulat malam itu. Malam ketika senyum pertamanya terpantul pada gelas kaca. Senyum yang cukup. Percakapan dan gestur yang cukup. Cukup untuk memulai pergulatan panjang. Cukup untuk dilupakan esok hari, seperti biasanya. Seperti seharusnya.
Seharusnya demikian. Bahwa tidak terjadi demikian adalah hal yang patut dipertanyakan. Aku biasa menjadi laki-laki yang menguasai diri. Mampu menekan gejolak jauh di bawah permukaan. Meredam apa yang tidak perlu terlihat. Melupakan apa yang seharusnya dilupakan. Namun selalu teringat malam itu. Pada kata demi kata yang terucap.
“I’m not supposed to be here.”
“Kamu ngomong apa sih. Kan kamu sendiri yang ajak kesini tadi malam”, jawabku sambil mencibir.
“Iya sih. Tapi kok kamu jadi pakai aku-kamu, bukan lu-gue lagi.”
“Itu kamu juga.”
Tersenyum berbarengan. Hanya tatap mata yang sampaikan bahwa ada kata yang tak terucap. Ada yang dia sembunyikan, ada yang kutahan dalam.
“Aku suka senyum kamu kaya begitu.”
Aku sering mendengar kalimat seperti ini, namun tetap saja kujawab, “Masa sih? Kan jelek baru bangun tidur gini.”
“Senyum kamu nggak berubah dari pertama kita ngobrol, sampai tengah malam, sampai sekarang.”
Ada yang aneh. Pujiannya meluncur dengan getir. Aku bisa rasakan meski sangat lirih. Terbiasa menelaah kata demi kata, meraba nada yang terucap, membuatku paham apa yang ada dalam hati seorang wanita, terlebih pada saat seperti ini. Tapi kali ini tidak. Bukan penyesalan, bukan kegembiraan bercampur ketakutan akan kehilangan yang biasa kutemui pada perempuan lain, bukan kepuasan jasmani, bukan rasa lelah. Entah.
“Kok malah bengong sih kamu. Ge er ya.”
“Enggak, kamu sendiri justru paling manis kalau bangun tidur”, sahutku cepat sambil mempererat pelukan, menyembunyikan risau.
Sebetulnya tidak ada yang spesial dari perempuan ini. Penampilan dan performance nya seperti bagaimana seharusnya. Tidak kurang, tidak lebih. Menyenangkan, menggoda, namun itu wajar. Hanya saja ada sesuatu dalam kata-katanya yang tidak bisa kutangkap. Seperti ada kunci yang dimainkan pada tangga nada yang tidak seharusnya.
Sesuatu yang yang membuat aku terus bertanya. Kucoba menelan penasaran. Kucoba hari demi hari. Menguburnya dengan permainan yang lain.
Namun malam semacam ini selalu saja menyeruakkan kegelisahan yang tak terjawab. Menjadikan aku kembali mencari nada yang hilang dalam komposisi yang dia mainkan. Itulah mengapa aku benci malam seperti ini. Malam yang gelap dan sendiri. Dengan cahaya beku, sisa purnama yang tertelan gerhana.
Aku hanya bisa menunggu pagi. Agar galau hilang bersama gelap.