fragmen - malam tanpa cahaya
Aku tak suka malam-malam seperti ini. Malam yang terlalu gelap dan sendiri. Cahaya beku, menelan semua keriangan. Aku tak suka malam yang memaksaku mengudal-udal segala kenangan yang telah terendap.
Memang kami bergulat malam itu. Malam ketika senyum pertamanya terpantul pada gelas kaca. Senyum yang cukup. Percakapan dan gestur yang cukup. Cukup untuk memulai pergulatan panjang. Cukup untuk dilupakan esok hari, seperti biasanya. Seperti seharusnya.
Seharusnya demikian. Bahwa tidak terjadi demikian adalah hal yang patut dipertanyakan. Aku biasa menjadi laki-laki yang menguasai diri. Mampu menekan gejolak jauh di bawah permukaan. Meredam apa yang tidak perlu terlihat. Melupakan apa yang seharusnya dilupakan. Namun selalu teringat malam itu. Pada kata demi kata yang terucap.
“I’m not supposed to be here.”
“Kamu ngomong apa sih. Kan kamu sendiri yang ajak kesini tadi malam”, jawabku sambil mencibir.
“Iya sih. Tapi kok kamu jadi pakai aku-kamu, bukan lu-gue lagi.”
“Itu kamu juga.”
Tersenyum berbarengan. Hanya tatap mata yang sampaikan bahwa ada kata yang tak terucap. Ada yang dia sembunyikan, ada yang kutahan dalam.
“Aku suka senyum kamu kaya begitu.”
Aku sering mendengar kalimat seperti ini, namun tetap saja kujawab, “Masa sih? Kan jelek baru bangun tidur gini.”
“Senyum kamu nggak berubah dari pertama kita ngobrol, sampai tengah malam, sampai sekarang.”
Ada yang aneh. Pujiannya meluncur dengan getir. Aku bisa rasakan meski sangat lirih. Terbiasa menelaah kata demi kata, meraba nada yang terucap, membuatku paham apa yang ada dalam hati seorang wanita, terlebih pada saat seperti ini. Tapi kali ini tidak. Bukan penyesalan, bukan kegembiraan bercampur ketakutan akan kehilangan yang biasa kutemui pada perempuan lain, bukan kepuasan jasmani, bukan rasa lelah. Entah.
“Kok malah bengong sih kamu. Ge er ya.”
“Enggak, kamu sendiri justru paling manis kalau bangun tidur”, sahutku cepat sambil mempererat pelukan, menyembunyikan risau.
Sebetulnya tidak ada yang spesial dari perempuan ini. Penampilan dan performance nya seperti bagaimana seharusnya. Tidak kurang, tidak lebih. Menyenangkan, menggoda, namun itu wajar. Hanya saja ada sesuatu dalam kata-katanya yang tidak bisa kutangkap. Seperti ada kunci yang dimainkan pada tangga nada yang tidak seharusnya.
Sesuatu yang yang membuat aku terus bertanya. Kucoba menelan penasaran. Kucoba hari demi hari. Menguburnya dengan permainan yang lain.
Namun malam semacam ini selalu saja menyeruakkan kegelisahan yang tak terjawab. Menjadikan aku kembali mencari nada yang hilang dalam komposisi yang dia mainkan. Itulah mengapa aku benci malam seperti ini. Malam yang gelap dan sendiri. Dengan cahaya beku, sisa purnama yang tertelan gerhana.
Aku hanya bisa menunggu pagi. Agar galau hilang bersama gelap.
August 29th, 2007 at 12:49 am
this one is deep…
August 29th, 2007 at 8:30 pm
personal ekspiriens ini…
September 7th, 2007 at 9:35 am
Hmm……
sun will keep be a moon if u set it being moon in your heart, dear friend
September 7th, 2007 at 9:55 am
Still can not find the ANSWER of your doubt wan?
why should take this way ya?
huh ..anyway u r an adult enough…it’s up to you
September 7th, 2007 at 3:05 pm
ikutan nimbrung wan……..
habis nge clean mail2 tadi ngeliat alamat blog mu…
fragmen? heee…
inspirasi tanpa tarikan experience didalamnya kah.
semoga…:-)
entahlah otakku tak teryakinkan
September 7th, 2007 at 10:12 pm
wei punya blog jg
keren websitenya!spt blog aku jaman dulu.hitam.
September 8th, 2007 at 11:10 am
@Me dan @Yps:
Lho kok pake namanya beda-beda Mbak
Langsung posting tiga comment pula
Makasih deh. Yaa.. cerita-cerita di atas itu menurut pakar telematika sih 68% hoax, wakakaka…
?
Btw Mbak, kalau aku lamar lagi sekarang masih nggak diterima ya? Atau masih ada peluang 68%
@nisa
Wah senengnya dikunjungi perempuan cantik ini, thanks banget
Bisa tahu blog ku dari mana? Kayanya aku ga pernah ngasih tau si Ibang juga tuh
September 17th, 2007 at 11:17 pm
apakah sesuatu musti dilupakan? adakah semacam pengertian untuk bisa seperti itu? aku tak paham, wan….? semoga perempuan-perempuan itu punya sejuta sayap untuk terbang keliling padang pasir…sampai lelap
September 17th, 2007 at 11:54 pm
@herlinatiens
Wuiii… akhirnya ada seleb mampir
Meskipun setelah dipaksa, hahaha..
Aku nggak ngerti, mengapa tulisanku diterima banyak orang secara pedih. Mohon maaf, barangkali aku memang terlalu awam untuk (belajar) menulis cerita.
January 7th, 2008 at 1:18 pm
:|
yang terdalam…yang terasa dan tak pernah terungkap jelas,,
(
banyak pertanyaan..tak bisa dipertanyakan……
January 8th, 2008 at 12:49 am
Sayaaang… yang depannya “fragmen” itu fiksi semua
Jangan resah karena ini ya
Tapi kalau sayang mau tanya, tanya aja.
Luv u so much.
January 23rd, 2008 at 11:37 am
Ass.hi met cank boleh g aku gabunk?