fragmen - sandiwara cinta
“Neng, kenapa sih Eneng nggak mau kawin sama Abang?”
“Abis Abang item sih, jelek…”
“Ya kan Eneng udah putih, nanti kalau Abang putih juga, anaknya bakalan kaya sapi dong.”
“Abang bisa aja… aku juga nggak suka Abang kurus…”
“Yah Eneng, kurus itu anugrah. Noh liat artis-artis pada tusuk jarum, mandi pake asep, biar jadi kurus. Lagian kan Eneng udah montok, kalau Abang gemuk juga, nanti anaknya kaya babi dong.”
“Idih Abang, anak sendiri disumpah-sumpahin. Mirip sapi lah, mirip babi lah. Amit-amit deh. Diralat atuh Bang, diralat. Ntar kejadian bener loh. Jaman sekarang kan banyak kejadian aneh-aneh.”
“Tapi Eneng mau kan punya anak sama Abang … ?”
“Ah Abang. Bikin juga belum…”
Lampu dimming out. Cahaya kuning kemerahan menyinari sudut kanan panggung. Sebuah gitar dan perkusi tanpa pemain mengalunkan irama tekno-akustik. Seseorang menyanyi:
Ijinkan aku mengecup keningmu
Hanya sekali dan tak ku ulang lagi
Berikan aku sekedar cinta
Sebelum mentari tak terbit lagi
Aku terpekur di bangku yang kududuki. Sudah lama tidak menonton sandiwara. Setelah sekian lama lebih banyak menghabiskan malam bersama hingar bingar, perempuan, dan asap rokok, akhirnya aku punya kesempatan untuk merefleksi diri. Melihat dunia sebagai pengamat, dunia di atas panggung, dan aku di luar, di kursi penonton. Di atas panggung ataupun bukan sama-sama sandiwara, toh? Jadi tidak ada salahnya aku melihat diri sendiri pada peran yang dimainkan di atas sana. Panggung sandiwara menjadi cermin kaca.
Berpikir seperti ini sering membuat pikiranku tak benar lagi. Kalau semua sama-sama sandiwara, mungkin lebih baik aku membalik badan dan memandangi kursi penonton. Tentu lebih seru, lebih banyak peran yang bisa kulihat, dan seharusnya aku tak perlu membayar tiket! Aku tidak menonton pertunjukan, tapi menonton penonton. Haha.
Pria disebelahku, yang terpisah dua bangku kosong, tampak gusar. Mungkin terganggu aku yang celingukan tidak karuan. Oh, dia sastrawan terkenal itu. Penulis cerita termashyur, “Hilangnya Sebuah Arloji Saku.” Tadi aku melihatnya masuk tanpa tiket. Undangan khusus. Lagipula siapa tidak kenal dia. Aku juga melihatnya di toilet sebelum pertunjukan, sedang melimis-limis rambutnya yang diikat licin. Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku juga pernah melihatnya di tempat-tempat lain akhir-akhir ini. Di sebuah bar, entah di mana.
Aku menjadi bergairah dengan pikiranku sendiri. Aku pikir, aku melihat laki-laki itu tidak satu atau dua kali ini saja. Mungkin lebih sering daripada yang kuduga. Aku juga pernah melihatnya di taman, sedang menekuri daun-daun gugur. Timbul kecurigaanku apa yang dia kerjakan sehari-hari, selain menjadi sastrawan tentunya. Kita sama tahu, pekerjaan menjadi sastrawan tentu tidak sibuk benar. Paling-paling datang ke pertemuan kebudayaan ini itu, berbicara ini itu, nonton teater gratis seperti yang dia lakukan kali ini, dan menulis sedikit. Uhuy, indah nian hidup dia tentunya. Dibandingkan aku yang selalu ditelan rutinitas dari ujung pagi hingga petang tiba. Non stop.
Ah tidak baik mengiri pada hidup orang lain. Tentunya jalan hidup masing-masing orang berbeda. Lebih baik aku menghapus pikiran-pikiran tak benar dan kembali menikmati pertunjukan.
Lampu jadi semburat merah mudah. Suara berganti perempuan bernyanyi:
Bukan tak mau jadi kekasihmu
Tapi jodoh mati bukan di tanganku
Abang janganlah salahkan Papa
Kalau masih berlaku Siti Nurbaia
Tiba-tiba aku muak, kesalku memuncak. Entah dari mana perasaan ini tiba. Menyeregap dan ingatkan pada mimpi-mimpi buruk. Entah nyanyian dari sudut kanan panggung itu, atau laki-laki sastrawan yang terpisah dua bangku sebelah itu yang membuatku muak. Aku jadi muak dengan lelaki dan kelelakian. Dunia laki-laki. Stereotip.
Bukan salahku jika aku pergi. Aku tinggalkan gedung pertunjukan tanpa tahu bagaimana akhir cerita. Aku berlari ke jalanan, menghentikan taksi. Aku berlari. Tapi pertunjukan-pertunjukan lain menyambutku. Sandiwara-sandiwara yang lain. Menggigil sendiri.