X
T r a s h :: l o g BETA
{ Chen Hendrawan }
chenz v.A-01 chenz v.T23s chenz v.X0-KZ

Archive for October, 2007

bagaimana berbuat untuk orang lain ?

Wednesday, October 31st, 2007

Sering kali kita tenggelam dalam kehidupan pribadi kita, bekerja keras mengejar mimpi pribadi, dan menjadi lupa dengan orang lain. Entah yang kita lupakan adalah orang-orang terdekat kita, orang yang kita sayang, masyarakat di sekitar kita, atau bahkan dalam lingkup yang lebih luas negara yang kita tinggali.

Lupa yang saya maksud di sini bukan sekedar lupa dalam pikiran, akan tetapi tindakan-tindakan yang kita lakukan tidak lagi berarti bagi orang-orang tersebut. Mungkin dalam pikiran kita ingat dengan saudara kita, ingat teman yang sedang kesulitan, ingat dengan anak jalanan di perempatan yang baru kita lalui, ingat dengan kondisi bangsa yang carut marut. Namun jika keseharian kita tidak memberi arti lebih bagi mereka, itu sama saja kita lupa.

Lalu apakah salah jika kita lupa? Tidak perlu saya jawab. Masing-masing orang punya cara pandang sendiri tentang arti hidup yang dia lalui. Saya tidak perlu dan tidak ingin menyalahkan.

Saya pribadi sedih setiap terbangun dari kelupaan saya. Sedih karena ternyata porsi kelupaan, ketidakpedulian saya lebih besar dibanding apa yang sudah saya lakukan. Sering kali banyak hal remeh temeh pribadi menjadi excuse untuk tidak berbuat lebih banyak bagi orang lain. Tidak ada waktu lah, sibuk dengan pekerjaan lah, sedang dalam perjalanan, tidak punya uang, sedang menabung untuk nikah, karena hujan deras, karena belum sarapan, sedang asyik jalan-jalan, dan sederet alasan lain yang sebetulnya remeh temeh. Remeh temeh jika dibandingkan dengan kesulitan orang-orang lain yang anda temui setiap hari di jalan, di kantor, di sekolah, di masjid, lokalisasi, rumah, kereta api, di mana saja.

Teringat kata-kata seorang teman, “Setiap orang punya masalah. Masalahnya, semua menganggap masalah mereka yang paling berat.” Dari premis tersebut saya mencoba memandang diri sendiri sebagai orang yang tak punya masalah, karena toh kesulitan orang lain sama atau lebih berat, tergantung siapa yang melihat. Ketika kita bisa memposisikan diri sebagai orang yang tidak punya masalah, atau setidaknya berhasil menganggapnya remeh temeh, maka terlihat jelas begitu banyak di luar sana yang membutuhkan sesuatu dari kita, entah itu dalam bentuk materi ataupun bukan.

Kenyataan yang terbuka itu sering menyakitkan saya. Bukan lagi karena saya lupa, tapi karena saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Apa yang bisa saya beri, apa yang bisa saya perbuat, apa yang bisa menjadikan saya lebih berarti bagi orang lain. Untuk orang yang kita sayang, untuk orang yang bertemu kita di mana saja, untuk bangsa (!)

Saya tidak sedang mengajak pembaca semua untuk setuju dengan apa yang saya yakini. Sebagaimana agama, arti kehidupan anda layaknya sebuah keyakinan. Saya hanya minta saran, tolong kasih komentar, apa yang bisa saya lakukan untuk berbuat lebih? Please. Satu saran saja dari setiap pembaca. (Lebih dari satu juga lebih baik :D ) Saya mohon saran yang praktikal, bukan suara-suara langit yang berbicara ide dan norma. Sesuatu yang bisa langsung saya (dan anda) lakukan. Atau kita bersama-sama.

Please.

bagaimana saya memaknai lebaran, dulu

Friday, October 12th, 2007

Sebelumnya saya ucapkan selamat Idul Fitri 1428H, bagi yang merayakan.

Saya teringat, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih berpuasa dan ber Idul Fitri. Ada hal sedikit aneh yang saya lakukan ketika lebaran tiba.

Waktu itu lebaran entah tahun berapa, saya masih duduk di bangku sekolah. Entah SMP atau SMA. Malam lebaran. Suara takbir di mana-mana. Keluarga besar berkumpul penuh kegembiraan dalam sebuah rumah besar, bagian dari tradisi (atau ritual?). Rumah besar kami berada di pinggir kota kecil di Jawa Timur, kota di mana Umar Kayam menghidupkan tokohnya dalam Para Priyayi.

Memang saya tak pernah diijinkan mengikuti takbir keliling dalam setiap malam lebaran, sesuatu yang sangat diinginkan anak-anak desa saat itu. Bukan karena alasan tertentu, hanya karena saya anak rumahan saja. Yang cukup duduk manis di rumah, bersama keluarga besar di rumah besar. Namun bukan karena itu saya tetap duduk manis di rumah, ada alasan lain.

Sehabis sholat malam hari, saya merasa begitu aneh. Aneh dengan kegembiraan orang-orang di rumah. Aneh dengan anak-anak (dan dewasa) yang dengan riangnya mengumandangkan takbir di jalan. Mengapa mereka begitu gembira? Bukankah bulan Ramadan telah berakhir. Bulan yang penuh rahmat, waktu di mana setan dibelenggu dan dosa manusia diampuni berlalu. Bulan diskon besar-besaran, dimana manusia mendapat point reward yang begitu besar atas setiap belanja ibadah yang dia lakukan.

Normalnya, saya pikir, Ibu-Ibu biasanya bersedih ketika sale hour berakhir. Saya bersedih, dan saya pikir sebaiknya orang-orang juga bersedih. Apakah mereka dengan pe-de-nya yakin bahwa selama bulan puasa ini belanja ibadah mereka sudah cukup? Apakah mereka tidak merasa kehilangan bulan penuh kemurahan itu, justru malah merayakan kepergiannya? Saya anak-anak waktu itu, tidak mengerti mengapa harus bergembira. Tidak juga kini, ketika saya mulai dewasa.

Maka saya menangis. Masih di atas sajadah saya menangis. Meratapi Ramadan yang pergi bersama sia-sianya waktu sebulan yang tidak saya manfaatkan benar-benar. Malam lebaran, tangis saya diiringi suara takbir yang riang tertawa. Malam lebaran waktu itu saya bersedih sejadi-jadinya, memohon ampun atas semua kesia-siaan yang saya lewati, meski mungkin sudah terlambat karena Ramadan telah pergi.

Kakak perempuan saya datang dan bertanya mengapa. Maka saya membagi tangis itu bersamanya. Kakak saya yang tercinta, mari kita ratapi lebaran kali ini.

Sejak itu saya tak pernah terlalu gembira dengan lebaran. Barangkali karena saya tak pernah merasa cukup dengan puasa saya.

Sekarang, sejak beberapa tahun lalu, saya tak lagi berpuasa, tidak juga berlebaran tentunya. Namun saya masih selalu teringat momen sedih waktu itu. Momen kesedihan yang sering terulang dalam hidup ketika saya tak bisa meraih sesuatu, ketika tidak ada yang bisa saya lakukan atas ketidakadilan yang terjadi, ketika saya diam saja terhadap uluran tangan seorang anak kecil di bus kota. Momen kesedihan yang terjadi ketika saya lebih banyak diam dibanding berbuat.

Tuhan, aku masih mencintaimu. Berilah aku selalu kekuatan untuk berbuat bagi orang lain. Saya menangis lagi kali ini, di bandara.