bagaimana saya memaknai lebaran, dulu
Sebelumnya saya ucapkan selamat Idul Fitri 1428H, bagi yang merayakan.
Saya teringat, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih berpuasa dan ber Idul Fitri. Ada hal sedikit aneh yang saya lakukan ketika lebaran tiba.
Waktu itu lebaran entah tahun berapa, saya masih duduk di bangku sekolah. Entah SMP atau SMA. Malam lebaran. Suara takbir di mana-mana. Keluarga besar berkumpul penuh kegembiraan dalam sebuah rumah besar, bagian dari tradisi (atau ritual?). Rumah besar kami berada di pinggir kota kecil di Jawa Timur, kota di mana Umar Kayam menghidupkan tokohnya dalam Para Priyayi.
Memang saya tak pernah diijinkan mengikuti takbir keliling dalam setiap malam lebaran, sesuatu yang sangat diinginkan anak-anak desa saat itu. Bukan karena alasan tertentu, hanya karena saya anak rumahan saja. Yang cukup duduk manis di rumah, bersama keluarga besar di rumah besar. Namun bukan karena itu saya tetap duduk manis di rumah, ada alasan lain.
Sehabis sholat malam hari, saya merasa begitu aneh. Aneh dengan kegembiraan orang-orang di rumah. Aneh dengan anak-anak (dan dewasa) yang dengan riangnya mengumandangkan takbir di jalan. Mengapa mereka begitu gembira? Bukankah bulan Ramadan telah berakhir. Bulan yang penuh rahmat, waktu di mana setan dibelenggu dan dosa manusia diampuni berlalu. Bulan diskon besar-besaran, dimana manusia mendapat point reward yang begitu besar atas setiap belanja ibadah yang dia lakukan.
Normalnya, saya pikir, Ibu-Ibu biasanya bersedih ketika sale hour berakhir. Saya bersedih, dan saya pikir sebaiknya orang-orang juga bersedih. Apakah mereka dengan pe-de-nya yakin bahwa selama bulan puasa ini belanja ibadah mereka sudah cukup? Apakah mereka tidak merasa kehilangan bulan penuh kemurahan itu, justru malah merayakan kepergiannya? Saya anak-anak waktu itu, tidak mengerti mengapa harus bergembira. Tidak juga kini, ketika saya mulai dewasa.
Maka saya menangis. Masih di atas sajadah saya menangis. Meratapi Ramadan yang pergi bersama sia-sianya waktu sebulan yang tidak saya manfaatkan benar-benar. Malam lebaran, tangis saya diiringi suara takbir yang riang tertawa. Malam lebaran waktu itu saya bersedih sejadi-jadinya, memohon ampun atas semua kesia-siaan yang saya lewati, meski mungkin sudah terlambat karena Ramadan telah pergi.
Kakak perempuan saya datang dan bertanya mengapa. Maka saya membagi tangis itu bersamanya. Kakak saya yang tercinta, mari kita ratapi lebaran kali ini.
Sejak itu saya tak pernah terlalu gembira dengan lebaran. Barangkali karena saya tak pernah merasa cukup dengan puasa saya.
Sekarang, sejak beberapa tahun lalu, saya tak lagi berpuasa, tidak juga berlebaran tentunya. Namun saya masih selalu teringat momen sedih waktu itu. Momen kesedihan yang sering terulang dalam hidup ketika saya tak bisa meraih sesuatu, ketika tidak ada yang bisa saya lakukan atas ketidakadilan yang terjadi, ketika saya diam saja terhadap uluran tangan seorang anak kecil di bus kota. Momen kesedihan yang terjadi ketika saya lebih banyak diam dibanding berbuat.
Tuhan, aku masih mencintaimu. Berilah aku selalu kekuatan untuk berbuat bagi orang lain. Saya menangis lagi kali ini, di bandara.
October 12th, 2007 at 7:33 pm
alow chen… izinkan gw ikut menangis (i mean it)
bener2 deh, hasil pemikiran si chen ini selalu bisa bikin gw takjub. Kadang sambil senyum, kadang sambil bengong, tapi sekarang bahkan bisa sampe tersentuh.
bless u bro…
October 13th, 2007 at 4:53 pm
bingung… kalo baca posting yg ini rasanya pengen komen… tapi bingung mau nulis apa… kemaren aja gw baca postingnya pagi baru jadi submit comment malem. Tapi rasanya belum puas… tapi mau nambah lagi bingung lagi… ya gini deh jadinya…
October 17th, 2007 at 5:31 pm
banyaknya agama memberi kebaikan kita semua dengan banyaknya liburan
October 18th, 2007 at 10:22 am
sebuah pemikiran yang bijaksana, tapi sangat sulit untuk mengubah sebuah tradisi, ketika warna warni yang gemerlap menjadi lambang kemeriahan dan ketika kemeriahan diidentikan dengan rasa syukur. Dihampir semua tradisi yang melibatkan manusia selalu ada unsur yang demikian, let’s say natal, tahun baru, imlek sekalipun. aku pribadi lebih menyukai syukur dalam hening, tiada hingar bingar, sujud syukur atas karunia-NYA, Salut buat pemikiran-mu, sepertinya aku harus belajar banyak dari seorang CHEN
October 19th, 2007 at 7:41 am
Hello mas Chen. Terimakasih atas komentarnya. Soal website kurang dikomentari, berarti isinya kurang membuat “greget” pembacanya sehingga saya harus bekerja lebih keras lagi menulis dan menulis. Hehehe. Saya sendiri merasa kok kalau sudah membaca blog seseorang lalu bingung ingin memberi komentar. Akhirnya keluar tanpa menulis. Pembuat komentar adalah talenta seseorang saya pikir. Tidak semua orang bisa. Sama dengan saat kuliah dahulu, ada murid berbakat bertanya dan banyak yang berbakat “pembaca yang pendiam.” Salam dan terimakasih.
October 21st, 2007 at 10:27 pm
Chenz …
Makna lebaran setiap orang berbeda-beda. Bagi sebagian besar orang yang mengerti lebaran dimaknai sebagai kembali ke fitrah, kembali bersih. Karena itu dinamai Hari Raya Idul Fitri. Bersih dari segala kesalahan-kesalahan yang dilakukan di masa lalu baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Dan kita kembali menjadi manusia yang baru. Dimana sebelumnya kita diuji terlebih dahulu di bulan Ramadhan yaitu dengan berpuasa dan memperbanyak ibadah. Karena itu sebelum berpuasa dan di hari Lebaran biasanya kita saling bermaafan untuk menghapus kesalahan kita. Sehingga bagi orang yang merasa lulus dalam ujian di bulan Ramadhan mereka gembira menyambut Lebaran karena mereka merasa kembali bersih. Mereka merayakan kemenangan berhasil lulus dalam ujian yang diberikan oleh Allah YME.
Jangan serius baca na

Itu hanya pendapatku lho …
Semoga bermanfaat …
December 27th, 2007 at 9:52 am
:) MenurutQu..
Bergembira menyambut lebaran dengan mengumandangkan Takbir menyebut Asma Allah merupakan salah satu cara mengungkapkan rasa syukur padaNya karna masih diberi kesempatan bertemu dengan hari yang Fitri..
karna hubungan kita tidak hanya pada Allah tetapi pada manusia, Allah maha Pengasih dan Pemberi Maaf, sedangkan manusia???dengan segala Ego dan Nafsunya, belum tentu ikhlas memaafkan jangankan memaafkan minta maafpun kadang sungkan..Lebaran merupakan moment PAS untuk memperbaiki hubungan dan membesihkan hati.. 
Hari dimana manusia saling memaafkan..dimana di hari itu mungkin adalah hari silaturahmi dengan seluruh keluarga besar, yang dimana di hari-hari lain belum tentu semua keluarga dapat/mau berkumpul..
Bersyukur dengan terus menggemakan Takbir karna kita ga tau batas umur kita sampai dimana, mungkin kita ga kan pernah bertemu dengan Lebaran ditahun depan nanti dan bertemu dengan orang2 yang kita ga tau sadar atau tidak pernah berbuat salah,Who Knows…
December 27th, 2007 at 11:56 am
Memang,,Ramadhan adalah bulan yang paling spesial..Dimana dalam bulan tersebut dosa manusia diampuni, setan-setan dibelenggu, dan Rahmat yang berlimpah dari Allah SWT..
hmm….gimana yah..aQ yakin Allah Maha Pemurah, Penyayang dan Pemberi Maaf.. Ga hanya bulan di Ramadhan kita meminta ampun dari segala Dosa..Setiap hari bisa..Dan klo memang kita benar2 bertaubat, Insya Allah pintu maaf kan terbuka..Allah Maha Besar…dan tau apa yang kita pikirin..
Tetapi bersedih dengan berfikir bahwa kita tak bisa mendapatkan pengampunan dosa, takut akan rahmatNya yang berkurang, takut akan setan-setan bergentayangan..
commentQu ini ga bermaksud apa2 ya sayaang,,,
ini cuma Pemikiran aQ ajah,,,