X
T r a s h :: l o g BETA
{ Chen Hendrawan }
chenz v.A-01 chenz v.T23s chenz v.X0-KZ

Archive for the 'the artist' Category

fragmen - sandiwara cinta

Monday, September 17th, 2007

“Neng, kenapa sih Eneng nggak mau kawin sama Abang?”
“Abis Abang item sih, jelek…”
“Ya kan Eneng udah putih, nanti kalau Abang putih juga, anaknya bakalan kaya sapi dong.”
“Abang bisa aja… aku juga nggak suka Abang kurus…”
“Yah Eneng, kurus itu anugrah. Noh liat artis-artis pada tusuk jarum, mandi pake asep, biar jadi kurus. Lagian kan Eneng udah montok, kalau Abang gemuk juga, nanti anaknya kaya babi dong.”
“Idih Abang, anak sendiri disumpah-sumpahin. Mirip sapi lah, mirip babi lah. Amit-amit deh. Diralat atuh Bang, diralat. Ntar kejadian bener loh. Jaman sekarang kan banyak kejadian aneh-aneh.”
“Tapi Eneng mau kan punya anak sama Abang … ?”
“Ah Abang. Bikin juga belum…”

Lampu dimming out. Cahaya kuning kemerahan menyinari sudut kanan panggung. Sebuah gitar dan perkusi tanpa pemain mengalunkan irama tekno-akustik. Seseorang menyanyi:

    Ijinkan aku mengecup keningmu
    Hanya sekali dan tak ku ulang lagi
    Berikan aku sekedar cinta
    Sebelum mentari tak terbit lagi

Aku terpekur di bangku yang kududuki. Sudah lama tidak menonton sandiwara. Setelah sekian lama lebih banyak menghabiskan malam bersama hingar bingar, perempuan, dan asap rokok, akhirnya aku punya kesempatan untuk merefleksi diri. Melihat dunia sebagai pengamat, dunia di atas panggung, dan aku di luar, di kursi penonton. Di atas panggung ataupun bukan sama-sama sandiwara, toh? Jadi tidak ada salahnya aku melihat diri sendiri pada peran yang dimainkan di atas sana. Panggung sandiwara menjadi cermin kaca.

Berpikir seperti ini sering membuat pikiranku tak benar lagi. Kalau semua sama-sama sandiwara, mungkin lebih baik aku membalik badan dan memandangi kursi penonton. Tentu lebih seru, lebih banyak peran yang bisa kulihat, dan seharusnya aku tak perlu membayar tiket! Aku tidak menonton pertunjukan, tapi menonton penonton. Haha.

Pria disebelahku, yang terpisah dua bangku kosong, tampak gusar. Mungkin terganggu aku yang celingukan tidak karuan. Oh, dia sastrawan terkenal itu. Penulis cerita termashyur, “Hilangnya Sebuah Arloji Saku.” Tadi aku melihatnya masuk tanpa tiket. Undangan khusus. Lagipula siapa tidak kenal dia. Aku juga melihatnya di toilet sebelum pertunjukan, sedang melimis-limis rambutnya yang diikat licin. Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku juga pernah melihatnya di tempat-tempat lain akhir-akhir ini. Di sebuah bar, entah di mana.

Aku menjadi bergairah dengan pikiranku sendiri. Aku pikir, aku melihat laki-laki itu tidak satu atau dua kali ini saja. Mungkin lebih sering daripada yang kuduga. Aku juga pernah melihatnya di taman, sedang menekuri daun-daun gugur. Timbul kecurigaanku apa yang dia kerjakan sehari-hari, selain menjadi sastrawan tentunya. Kita sama tahu, pekerjaan menjadi sastrawan tentu tidak sibuk benar. Paling-paling datang ke pertemuan kebudayaan ini itu, berbicara ini itu, nonton teater gratis seperti yang dia lakukan kali ini, dan menulis sedikit. Uhuy, indah nian hidup dia tentunya. Dibandingkan aku yang selalu ditelan rutinitas dari ujung pagi hingga petang tiba. Non stop.

Ah tidak baik mengiri pada hidup orang lain. Tentunya jalan hidup masing-masing orang berbeda. Lebih baik aku menghapus pikiran-pikiran tak benar dan kembali menikmati pertunjukan.

Lampu jadi semburat merah mudah. Suara berganti perempuan bernyanyi:

    Bukan tak mau jadi kekasihmu
    Tapi jodoh mati bukan di tanganku
    Abang janganlah salahkan Papa
    Kalau masih berlaku Siti Nurbaia

Tiba-tiba aku muak, kesalku memuncak. Entah dari mana perasaan ini tiba. Menyeregap dan ingatkan pada mimpi-mimpi buruk. Entah nyanyian dari sudut kanan panggung itu, atau laki-laki sastrawan yang terpisah dua bangku sebelah itu yang membuatku muak. Aku jadi muak dengan lelaki dan kelelakian. Dunia laki-laki. Stereotip.

Bukan salahku jika aku pergi. Aku tinggalkan gedung pertunjukan tanpa tahu bagaimana akhir cerita. Aku berlari ke jalanan, menghentikan taksi. Aku berlari. Tapi pertunjukan-pertunjukan lain menyambutku. Sandiwara-sandiwara yang lain. Menggigil sendiri.

sing a song

Sunday, September 16th, 2007


Said I remember when we used to sit
In the government yard in Trenchtown
Oba, ob-serving the hypocrites
As they would mingle with the good people we meet
Good friends we have had, oh good friends we’ve lost along the way
In this bright future you can’t forget your past
So dry your tears I say

         No Woman No Cry - Bob Marley

fragmen - malam tanpa cahaya

Wednesday, August 29th, 2007

Aku tak suka malam-malam seperti ini. Malam yang terlalu gelap dan sendiri. Cahaya beku, menelan semua keriangan. Aku tak suka malam yang memaksaku mengudal-udal segala kenangan yang telah terendap.

Memang kami bergulat malam itu. Malam ketika senyum pertamanya terpantul pada gelas kaca. Senyum yang cukup. Percakapan dan gestur yang cukup. Cukup untuk memulai pergulatan panjang. Cukup untuk dilupakan esok hari, seperti biasanya. Seperti seharusnya.

Seharusnya demikian. Bahwa tidak terjadi demikian adalah hal yang patut dipertanyakan. Aku biasa menjadi laki-laki yang menguasai diri. Mampu menekan gejolak jauh di bawah permukaan. Meredam apa yang tidak perlu terlihat. Melupakan apa yang seharusnya dilupakan. Namun selalu teringat malam itu. Pada kata demi kata yang terucap.

“I’m not supposed to be here.”
“Kamu ngomong apa sih. Kan kamu sendiri yang ajak kesini tadi malam”, jawabku sambil mencibir.
“Iya sih. Tapi kok kamu jadi pakai aku-kamu, bukan lu-gue lagi.”
“Itu kamu juga.”

Tersenyum berbarengan. Hanya tatap mata yang sampaikan bahwa ada kata yang tak terucap. Ada yang dia sembunyikan, ada yang kutahan dalam.

“Aku suka senyum kamu kaya begitu.”

Aku sering mendengar kalimat seperti ini, namun tetap saja kujawab, “Masa sih? Kan jelek baru bangun tidur gini.”
“Senyum kamu nggak berubah dari pertama kita ngobrol, sampai tengah malam, sampai sekarang.”

Ada yang aneh. Pujiannya meluncur dengan getir. Aku bisa rasakan meski sangat lirih. Terbiasa menelaah kata demi kata, meraba nada yang terucap, membuatku paham apa yang ada dalam hati seorang wanita, terlebih pada saat seperti ini. Tapi kali ini tidak. Bukan penyesalan, bukan kegembiraan bercampur ketakutan akan kehilangan yang biasa kutemui pada perempuan lain, bukan kepuasan jasmani, bukan rasa lelah. Entah.

“Kok malah bengong sih kamu. Ge er ya.”
“Enggak, kamu sendiri justru paling manis kalau bangun tidur”, sahutku cepat sambil mempererat pelukan, menyembunyikan risau.

Sebetulnya tidak ada yang spesial dari perempuan ini. Penampilan dan performance nya seperti bagaimana seharusnya. Tidak kurang, tidak lebih. Menyenangkan, menggoda, namun itu wajar. Hanya saja ada sesuatu dalam kata-katanya yang tidak bisa kutangkap. Seperti ada kunci yang dimainkan pada tangga nada yang tidak seharusnya.

Sesuatu yang yang membuat aku terus bertanya. Kucoba menelan penasaran. Kucoba hari demi hari. Menguburnya dengan permainan yang lain.

Namun malam semacam ini selalu saja menyeruakkan kegelisahan yang tak terjawab. Menjadikan aku kembali mencari nada yang hilang dalam komposisi yang dia mainkan. Itulah mengapa aku benci malam seperti ini. Malam yang gelap dan sendiri. Dengan cahaya beku, sisa purnama yang tertelan gerhana.

Aku hanya bisa menunggu pagi. Agar galau hilang bersama gelap.