fragmen - daun-daun gugur
Saturday, August 11th, 2007Siang dengan daun-daun gugur. Taman kota seperti Central Park sebelum musim semi tiba. Aku memang belum pernah kesana, tapi begitulah yang aku tangkap dari buku dan layar kaca. Hanya saja di sini daun meranggas sepanjang tahun. Sepanjang usia. Jakarta terlalu panas, sesaknya membuat daun-daun itu mati sebelum saatnya.
Siang dengan daun-daun gugur. Pukul dua aku masih tak beranjak dari bangku ini. Sambil menjilati sisa ice cream, makan siangku. Hatiku masih panas, jakarta tak mau berdamai.
Sebetulnya mungkin lebih nyaman kalau aku menanggalkan blazer dan membiarkan kulitku dibakar siang. Tapi Jakarta tak bisa diam melihat perempuan ber-tank top di tengah taman. Mata-mata liar itu. Tak bisa membiarkan panas hatiku membakar daun-daun kering.
Sepanjang meeting pagi tadi, gelisahku bagai disulut bara. Kami, perempuan, seperti disahkan menjadi warga kelas dua. Buah dada lebih penting dari isi kepala. Setelah sekian tahun aku baru sadar bahwa company ini begitu picik: masih memberi harga pada lekuk-lekuk tubuh. Atau memang semua lelaki berpikiran seperti itu?
Aku bukan seorang feminis. Apapun definisinya. Belum.
Aku hanya gerah dengan cara berpikir laki-laki. Rasionalitas yang bullshit ketika dihadapkan dengan pinggul dan dada. Cara berpikir yang semena-mena menelanjangi tubuh kami. Tak penting apakah semua laki-laki demikian atau tidak. Sudah cukup orang-orang yang kupercaya, orang-orang yang kusandari selama ini, ternyata sama piciknya.
Pukul dua lima belas menit. Masih di tengah taman kota. Mencari tissue basah di saku blazer (untungnya sekarang ada kemasan sachet). Membersihkan sisa-sisa ice cream di bibir. Sial, Lancome lip gloss-ku ketinggalan di meja.
Dedaunan masih jatuh meski angin mati. Daun gugur karena panas jakarta, sesaknya membuat mereka mati sebelum saatnya. Sesak yang juga menghimpit kami. Aku ingin lepas. Tak mau seperti daun-daun gugur itu.
Aku bukan feminis. Belum. Aku tak mau frontal. Barangkali dengan mencoba mengerti jalan pikiran laki-laki akan kutemukan jawabnya. Mengapa tidak? Bisa saja kucoba, berpikir dan bertindak seperti lelaki. Memperlakukan orang dengan cara mereka. Memperlakukan laki-laki sebagaimana sikap mereka terhadap perempuan. Mengapa tidak? Aku bisa mencoba, membebaskan pikiranku untuk semena-mena menelanjangi kebusukan mereka, melecehkan ego.
Hatiku makin panas. Jakarta tak mau berdamai.