bagaimana saya memaknai lebaran, dulu
Friday, October 12th, 2007Sebelumnya saya ucapkan selamat Idul Fitri 1428H, bagi yang merayakan.
Saya teringat, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih berpuasa dan ber Idul Fitri. Ada hal sedikit aneh yang saya lakukan ketika lebaran tiba.
Waktu itu lebaran entah tahun berapa, saya masih duduk di bangku sekolah. Entah SMP atau SMA. Malam lebaran. Suara takbir di mana-mana. Keluarga besar berkumpul penuh kegembiraan dalam sebuah rumah besar, bagian dari tradisi (atau ritual?). Rumah besar kami berada di pinggir kota kecil di Jawa Timur, kota di mana Umar Kayam menghidupkan tokohnya dalam Para Priyayi.
Memang saya tak pernah diijinkan mengikuti takbir keliling dalam setiap malam lebaran, sesuatu yang sangat diinginkan anak-anak desa saat itu. Bukan karena alasan tertentu, hanya karena saya anak rumahan saja. Yang cukup duduk manis di rumah, bersama keluarga besar di rumah besar. Namun bukan karena itu saya tetap duduk manis di rumah, ada alasan lain.
Sehabis sholat malam hari, saya merasa begitu aneh. Aneh dengan kegembiraan orang-orang di rumah. Aneh dengan anak-anak (dan dewasa) yang dengan riangnya mengumandangkan takbir di jalan. Mengapa mereka begitu gembira? Bukankah bulan Ramadan telah berakhir. Bulan yang penuh rahmat, waktu di mana setan dibelenggu dan dosa manusia diampuni berlalu. Bulan diskon besar-besaran, dimana manusia mendapat point reward yang begitu besar atas setiap belanja ibadah yang dia lakukan.
Normalnya, saya pikir, Ibu-Ibu biasanya bersedih ketika sale hour berakhir. Saya bersedih, dan saya pikir sebaiknya orang-orang juga bersedih. Apakah mereka dengan pe-de-nya yakin bahwa selama bulan puasa ini belanja ibadah mereka sudah cukup? Apakah mereka tidak merasa kehilangan bulan penuh kemurahan itu, justru malah merayakan kepergiannya? Saya anak-anak waktu itu, tidak mengerti mengapa harus bergembira. Tidak juga kini, ketika saya mulai dewasa.
Maka saya menangis. Masih di atas sajadah saya menangis. Meratapi Ramadan yang pergi bersama sia-sianya waktu sebulan yang tidak saya manfaatkan benar-benar. Malam lebaran, tangis saya diiringi suara takbir yang riang tertawa. Malam lebaran waktu itu saya bersedih sejadi-jadinya, memohon ampun atas semua kesia-siaan yang saya lewati, meski mungkin sudah terlambat karena Ramadan telah pergi.
Kakak perempuan saya datang dan bertanya mengapa. Maka saya membagi tangis itu bersamanya. Kakak saya yang tercinta, mari kita ratapi lebaran kali ini.
Sejak itu saya tak pernah terlalu gembira dengan lebaran. Barangkali karena saya tak pernah merasa cukup dengan puasa saya.
Sekarang, sejak beberapa tahun lalu, saya tak lagi berpuasa, tidak juga berlebaran tentunya. Namun saya masih selalu teringat momen sedih waktu itu. Momen kesedihan yang sering terulang dalam hidup ketika saya tak bisa meraih sesuatu, ketika tidak ada yang bisa saya lakukan atas ketidakadilan yang terjadi, ketika saya diam saja terhadap uluran tangan seorang anak kecil di bus kota. Momen kesedihan yang terjadi ketika saya lebih banyak diam dibanding berbuat.
Tuhan, aku masih mencintaimu. Berilah aku selalu kekuatan untuk berbuat bagi orang lain. Saya menangis lagi kali ini, di bandara.